Ini baru buat, jadi dimaklumi ya

2 Jun 2013

CERPEN SERAM : Absen Nomor 13


Cerpen Horor ini ditulis oleh Naravina Yoichi



Derap langkah seorang gadis memecah keheningan malam itu. Hujan yang sedari tadi mengguyur tubuhnya, seakan tak dipedulikan. Gadis itu terus berlari, seolah setan dalam cerpen horor pada umumnya tenga mengejar. Tapi, manusia pasti punya batas. Gadis itu mulai kehabisan napas. Ia berhenti sejenak di rerindangan pohon untuk mengatur napasnya yang memburu.

Tak lama

berselang, segerombol orang muncul. Mereka segera mendapatkan gadis malang itu, lalu memukulinya, menendangnya, melecehkannya. Gadis itu hendak melawan, tapi apa lacur, dia merasa tak sanggum lagi. Dengan mata terpejam, dipasrahkannya nyawa satu-satunya itu kembali kepada Sang Khalik.

***

Beberapa tahun kemudian…

Jam pertama di kelas IX-I SMP N 1 Bimasakti diawali oleh perkenalan seorang siswi baru. Pak Beno, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia pertama mempersilahkan siswi barunya itu untuk memperkenalkan dirinya.

“Selamat pagi semua.” Sapa siswi baru itu.

“Pagiiii.” Balas semua anak yang ada di kelas IX-I.

“Perkenalkan, nama saya Lena, pindahan dari SMP N 2 Tunas Emas, semoga kita dapat berteman baik,” katanya sambil tersenyum ramah.

“Baiklah, Lena, kau boleh duduk di bangkumu sekarang. Di sebelah Novita ya.” Pak Beno mempersilahkan Lena duduk. Lena pun duduk di sebelah Novita yang sedang memegang buku Kisah-kisah Tengah Malam karya Edgar Allan Poe – salah satu buku cerpen horor kesukaannya. Lalu Pak Beno mulai mengabsen mereka. Ketika Pak Beno mulai membuka absen, anak-anak di kelas mulai gelisah, seperti ada sesuatu yang membuat mereka cemas.
“Alfin!” Pak Beno mulai memanggil nama muridnya satu persatu.

“Hadir!”

“Anas!!”

“Hadir, Pak!” Pak Beno terus memanggil, sampai akhirnya di urutan yang ke-13, entah kenapa seisi kelas langsung menegang. Mereka semua menunggu nama anak yang akan dipanggil oleh Pak Beno selanjutnya.

“Lena!!!”

“Hadir, Pak!!” Balas Lena. Tetapi tiba-tiba, seisi kelas langsung menatap gadis itu dengan tatapan ngeri. Lena mengernyitkan dahinya bingung. Linda dan Samuel yang duduk di dekatnya langsung menggeser bangku dan meja mereka jauh-jauh dari Lena. Lena menatap teman-temannya dengan tatapan tidak mengerti. ‘Kenapa sih dengan mereka?’ Batin Lena kebingungan.

***

Saat jam istirahat, Lena hendak pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku cerpen horor di sana. Ketika sedang menuju ke sana, tiba-tiba kaki Lena kesrimpet sendiri, membuat Lena terjatuh. Bukannya menolong, teman-teman Lena malah mengerumuninya dan menatapnya dengan pandangan ngeri. Lena buru-buru bangkit dan langsung pergi dari tempat itu.

Jam ketiga adalah jam olahraga, dan materi olahraga mereka kali ini voli. Entah sudah berapa kali tadi wajah Lena terkena lemparan bola. Bahkan saat bertanding, salah seorang teman Lena men-smash bola dan tepat menganai wajah Lena. Hidung Lena mengeluarkan darah dan dia pingsan.

***

Lena tersadar di ruang UKS. Ia melihat seorang perawat yang kebetulan berada di ruangan itu. “Mbak...” panggilnya pelan. Perawat itu mendengar suara Lena dan langsung menoleh ke tempat sumber suara.

“Eh, Adek sudah sadar?” tanya perawat itu girang. Ia bangkit dari tempat duduknya dan membawakan Lena nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. “Makan dulu ya,” kata perawat itu sambil meletakkan nampannya di meja sebelah tempat tidur Lena.

“Ah, iya, terima kasih...,” Balas Lena, sambil berusaha tersenyum.

“Adek tadi pingsan, untung beberapa teman Adek langsung cepat melaporkannya,” cerita perawat itu. Lena teringat kejadian saat bermain voli tadi. Iya, dia memang pingsan, tetapi bukan karena terkena smash, melainkan karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan mungkin teman-temannya tidak tahu. Saat jam pertama tadi, ketika pelajaran sudah dimulai, ia selalu merasa ada orang yang mengamatinya di belakang, tetapi ketika ia berbalik, tidak ada siapa-siapa, jelas saja tidak ada, diakan duduk di deretan terakhir.

Lalu saat makan siang di kantin, ia memesan semangkuk bakso, tetapi ketika ia mau makan, bakso itu berubah menjadi 4 bola mata, bahkan mienya berubah menjadi cacing kalung yang besar-besar. Lalu saat di ruang ganti, ketika ia membuka lokernya, ia menemukan mayat di dalam lokernya itu, ia berteriak histeris, tetapi karena tidak ada orang, jadi tidak ada yang mendengar teriakannya.

Saat sedang lari pemanasan, ia tersandung sesuatu dan ketika dilihatnya ternyata ada sebuah tangan yang tadi memegang pergelangan kakinya. Dan masih banyak lagi keanehan-keanehan lainnya. Mungkin itulah yang membuatnya sedikit stres, karena terlalu banyak berpikir akhirnya ia kecapekan sendiri dan jatuh pingsan karena ditambah smash bola voli yang cukup kuat.

“Adek,” Panggil perawat itu lagi, membuyarkan lamunan Lena.

“Eh, ya.. ad, ada apa mbak?” Lena gelagapan.

“Enggak baik lho ngelamun siang-siang, nanti kesambet!” Perawat itu menakuti-nakuti Lena. Lena hanya merespon dengan tawa kecil. Tetapi tidak lama tawanya itu menghilang, wajahnya menjadi murung dan terlihat cemas.
“Maaf mbak ada yang ingin saya tanyakan,” kata Lena. “Kenapa rasanya saya hari ini sial terus ya? Bahkan terkadang, saya melihat hal yang aneh-aneh. Mirip kisah dalam cerpen-cerpen horor itu.” Wajah perawat itu seketika memucat, tubuhnya sedikit gemetaran.

“Hah, aneh-aneh? Seperti apa contohnya?” Tanya perawat itu, ia mulai ketakutan.

“Waktu istirahat, saya memesan bakso di kantin, tetapi ketika saya mau makan, bakso itu berubah menjadi 4 buah bola mata, waktu saya hendak mengganti baju di ruang ganti, saya melihat mayat di loker saya, dan terakhir ketika pemanasan, pergelangan kaki saya dipegang oleh tangan aneh sampai saya terjatuh. Pokoknya ngeri mbak, persis cerpen horor,” kata Lena bergidik.

Perawat itu terlihat gelisah, rasanya ia ingin keluar dari ruang UKS cepat-cepat, tetapi niat itu di urungkannya karena ia tak tega melihat kondisi Lena yang menyedihkan. ‘Apa sebaiknya kuceritakan?’ Batin perawat itu. Namun akhirnya ia putuskan untuk menceritakannya, tragedi yang terjadi di SMP N 1 Bimasakti 13 tahun yang lalu.

“Adek ingin tahu kenapa hari ini adek selalu sial?” kata perawat itu. Lena menjawab dengan anggukan cepat. “Cerita ini mirip sebuah cerita dalam cerpen horor. Tiga belas tahun lalu, terjadi tragedi yang cukup mengenaskan di SMP N 1 Bimasakti ini, saat itu ada seorang gadis yang sangat tidak beruntung, ia selalu menjadi bahan tertawaan dan ejekan dari teman-temannya, lalu saat ulang tahunnya yang ke-13,

teman-temannya mengerjainya habis-habisan sehari penuh, entah itu dilempari mercon, tepung, telur busuk, dikunci dalam kamar mandi, ditukar makan siangnya, atau pun di tuduh melakukan suatu kejahatan, namun rupanya teman-teman gadis itu sudah kelewatan, mereka memfitnah gadis itu mencuri uang kakak kelas mereka, karena marah, kakak kelasnya itu pun menghajarnya habis-habisan, tetapi gadis itu berhasil melarikan diri, sayangnya tidak berapa lama kemudian, ia tertangkap lagi dan akhirnya ia meregang nyawa karena disiksa lebih parah. Tidak tahu harus berbuat apa, kakak kelas beserta teman-temannya memutuskan untuk mengubur jenazah gadis itu, dan sampai sekarang, jasadnya belum ditemukan.”

Perawat itu mengambil jeda sebentar lalu melanjutkan kembali. “Sebelum mati, gadis itu bersumpah untuk membunuh setiap orang yang mendapat absen nomor 13, kenapa begitu? Itu karena penyebab teman-temannya selalu mengejek dan mengerjainya adalah karena mereka percaya bahwa angka 13 membawa sial, jadi mereka ingin membuktikan hal tersebut dengan cara mengucilkan, mengejek, dan menyiksa orang yang mendapat absen nomor 13 di kelas mereka, dan si gadis itu kebetulan mendapat nomor absen yang ke 13.”

JDAARRR!!! Tiba-tiba kilat menyambar dan mengagetkan Lena juga perawat itu. Langit yang tadinya cerah telah berubah menjadi mendung, dan tidak lama kemudian hujan pun turun. Lampu di ruang UKS tiba-tiba mati. Lena dan perawat itu ketakutan. Samar-samar mereka mendengar suara rintihan seseorang.

“Tolong… tolong…” Suara itu makin terdengar jelas, dan tiba-tiba dari bawah ranjang Lena muncul sesosok mahluk, perawat yang tadi duduk di sebelah Lena langsung menjauh dan menjerit ketakutan. Makhluk astral yang hanya muncul dalam cerpen horor itu kini berlumurah darah dan wajahnya tidak terlalu jelas karena lusak, kulit-kulitnya dipenuhi koreng dan luka-luka yang sudah membusuk. Bau tak sedap pun tercium dari makhluk itu.

“Tolong....,” Makhluk itu berbalik ke tempat Lena berbaring. Lena refelks bangkit, ia berdiri di atas ranjangnya melempari makhluk itu dengan benda-benda yang ada disekitarnya.

“Hentikan! Hentikan! Jangan bunuh aku!! Aku belum ingin mati!!!” Lena histeris, ia loncat dari sisi lain ranjang dan berlari ke tempat si perawat. Makhluk itu tidak mengejar, ia memandang Lena dari tempatnya berdiri, perlahan-lahan setetes darah jatuh di atas lantai, makhluk itu menangis darah. “Tolong aku. Kuburkanlah jasadku dengan layak.”

Setelah berkata seperti itu, mahluk itu raib. Lampu yang tadi mati hidup kembali, tetapi Lena dan perawat itu masih gemetar ketakutan. Wangi anyer dan amis darah masih membekas di ruangan itu, bahkan tetesan darah mahluk tadi masih ada di lantai. Perawat itu akhirnya memberanikan diri untuk bergerak kembali, ia mengambil pel untuk membersihkan lantai UKS yang kotor. Lena pun ikut memberanikan dirinya juga, ia berniat untuk membantu si perawat, tetapi ketika hendak mengelap lantai yang berbecak darah tadi, ia melihat rangkain tulisan yang berasal dari bercak darah itu, “U... K...S..,” Lena mengejanya. Tiba-tiba terpampang jawaban di kepalanya.

“Mbak! Saya tahu di mana jasad gadis itu!” Serunya gembira. Perawat itu bengong untuk sesaat, tetapi kemudian ia terlihat gembira juga.

“Benarkah? Di mana??” tanyanya.

“DI UKS!!!” Jawab Lena. “13 tahun yang lalu di sekolah ini belum ada UKS kan??” Perawat itu diam sebentar untuk berpikir, lalu beberapa saat kemudian ia menggeleng. “Belum ada!! Mungkin memang dikubur di bawah ruang UKS!” Lalu keduanya saling bersorak gembira.

***

Keesokan harinya, Lena dan perawat di UKS itu meminta tolong kepada kepala sekolah untuk mengirim tim penyelidik. Dan siangnya tim penyelidik yang mereka panggil itu menggali di sekitar mahluk itu muncul. Akhirnya setelah lama menggali, mereka menemukan tulang-belulang yang cukup besar yang diduga itu adalah tulang badan gadis yang tewas 13 tahun lalu itu. Bahkan mereka menemukan tengkorak kepalanya dan beberapa benda seperti jam tangan dan kalung milik gadis itu.

Setelah semuanya dikebumikan dengan layak, Lena melihat samar-samar bayangan yang melambaikan tangan padanya dan mengucapkan “terima kasih”. Lena tersenyum bahagia dan membalas melambaikan tangan juga. Dan bayangan itu menghilang, untuk selamanya. 

sejarah kuntilanak

Sosok kuntilanak digambarkan dalam bentuk wanita cantik. Kuntilanak digambarkan senang meneror penduduk kampung untukmenuntut balas. Kuntilanak sewaktu muncul selalu diiringi harum bunga kamboja. Konon laki-laki yang tid
ak berhati-hati bisa dibunuh sesudah kuntilanak berubah wujud menjadi penghisap darah. Kuntilanak juga senang menyantap bayi dan melukai wanita hamil. Dalam cerita seram dan film horor di televisi Malaysia,kuntilanak digambarkan membunuh mangsa dengan cara menghisap darah di bagian tengkuk,seperti vampir atau dracula. Agak berbeda dengan gambaran menurut tradisi Melayu, kuntilanak menurut tradisi Sunda tidak memiliki lubangdi punggung dan hanya mengganggu dengan penampakan saja. Jenis yang memiliki lubang di punggung sebagaimana deskripsi di atas disebut sundel bolong. Kuntilanak konon juga menyukai pohon tertentu sebagai tempat “bersemayam”.uhhh serem yahh

kisah ngenes kemaren

kemaren hari sabtu gue pengen dateng ke sekolah cepet-cepet jadi bangun jam 3.30,tapi aku baru ingat kalo hari sabtu ada perpisahan klas 9 jam 7.45,yasud aku tidur lagi dg pulasnya.

pas pagi dah bangun"bah lega tidurnya",mamahku langsung bilang"perginya jam berapa?","jam setengah lapan,mah",mamahku nyapu dibawah sdh jam delapan mamahku belom naik-naik,aku tanya"mah pergi sekarang yuk""oh,iya tunggu sebentar" pas dah selesai nyapu,masak lagi smpe jam 8.17 habis tuh pergi.padahal malemx aku ajakin tmen2ku pergi jam 7.45 ternyata aku yg perginya
terakhiran!!
TerAkhiran!!!!!
teeerAkhiiiran!!
demi tuhan!!!!,yang terakhir!!!!!!
cuma supaya dramatis gitu,diulangulang


pas sdh mw nyampe ternyata salah jalan masuk,langsung muter lagi,sudah jam 9 itu pdhl.sudah masuk bingung lewat mana jalan masuknya(langsung megang hp) aku telepon tmenk"eh jemputin aku,aku ndak tw jalan masuknya""iya kujemputin tunggu disitu" sdh kutungguin sambil jalan jalan,ndak ketemu-ketemu ternyata mereka ada disebrang,yasud alhasil aku harus nyebrang lagi.

sdh didalem gedung aku gak dapet tempat duduk tapi temenku untung ada yg baik,jadi dikasih tempat duduk.pas lagi nonton sambutan sama acara di depan,aku minta pie keanak lain kecewekcewek dan temenku wahyu(anak gamer,suka sama cewek=normal,berkacamata)dia minta jalangkote yg aslinya pastel bkn jalangkote,habis itu kita makanin,aku maen game dan semuanya pun begitu pas giliran ada cewek2 nari semuanya nonton apalgi pas bagian "oppa gangnam style" pas lagunya mw habis,lagunya terhenti sebentar teman sekelasku enggo(anak mauneh gatau mwnya apa paling sering bebacot,growo)langsung teriak"awas jatoh(ifyouknowwhatimean)"semua langsung ketawa dan kamera livestream langsung mengarah kekita semua,ya spontan kita malu semua.

acara sudah berlangsung lama,kita dikasih makan siang yang seharusnya peaceful malah jadi food battle,ini masalah "kelas 7.7 vs the other class".kursiku dibasahin dilemparin pisang yg dimodel(ifyouknowwhatimeantoo),aku pake sepatu bagus2 converse dibasahin,keinjek permen karet,nginjek airnya mountea yg lengket,pas ada acaranya nari-nari kayak klub nari gitu pasti bagus tapi gara2 aku pengen kabur kayak yg lainya,aku sudah keburu kejemput inilah alasan kita mengapa kita gak boleh kabor dari acara perpisahan anak kelas 9.
ngenes btul hariku kemaren.


TRUE STORY=M.THORIQ
TWITTER=@thoriqatila
FACEBOOK=muhammad thoriq atila sukandar
WECHAT=thoriq okay

gamers

23 Mei 2013

THOMAS ALFA EDISON


Thomas Alva Edison dilahirkan di Milan, Ohio pada tanggal 11 Februari 1847. Tahun 1854 orang tuanya pindah ke Port Huron, Michigan. Edison pun tumbuh besar di sana. Sewaktu kecil Edison hanya sempat mengikuti sekolah selama 3 bulan. Gurunya memperingatkan Edison kecil bahwa ia tidak bisa belajar di sekolah sehingga akhirnya Ibunya memutuskan untuk mengajar sendiri Edison di rumah. Kebetulan ibunya berprofesi sebagai guru. Hal ini dilakukan karena ketika di sekolah Edison termasuk murid yang sering tertinggal dan ia dianggap sebagai murid yang tidak berbakat.

Meskipun tidak sekolah, Edison kecil menunjukkan sifat ingin tahu yang mendalam dan selalu ingin mencoba. Sebelum mencapai usia sekolah dia sudah membedah hewan-hewan, bukan untuk menyiksa hewan-hewan tersebut, tetapi murni didorong oleh rasa ingin tahunya yang besar. Pada usia sebelas tahun Edison membangun laboratorium kimia sederhana di ruang bawah tanah rumah ayahnya. Setahun kemudian dia berhasil membuat sebuah telegraf yang meskipun bentuknya primitif tetapi bisa berfungsi.

Tentu saja percobaan-percobaan yang dilakukannya membutuhkan biaya yang lumayan besar. Untuk memenuhi kebutuhannya itu, pada usia dua belas tahun Edison bekerja sebagai penjual koran dan permen di atas kereta api yang beroperasi antara kota Port Huron dan Detroit. Agar waktu senggangnya di kereta api tidak terbuang percuma Edison meminta ijin kepada pihak perusahaan kereta api, “Grand Trunk Railway”, untuk membuat laboratorium kecil di salah satu gerbong kereta api. Di sanalah ia melakukan percobaan dan membaca literatur ketika sedang tidak bertugas.

Tahun 1861 terjadi perang saudara antara negara-negara bagian utara dan selatan. Topik ini menjadi perhatian orang-orang. Thomas Alva Edison melihat peluang ini dan membeli sebuah alat cetak tua seharga 12 dolar, kemudian mencetak sendiri korannya yang diberi nama “Weekly Herald”. Koran ini adalah koran pertama yang dicetak di atas kereta api dan lumayan laku terjual. Oplahnya mencapai 400 sehari.

Pada masa ini Edison hampir kehilangan pendengarannya akibat kecelakaan. Tetapi dia tidak menganggapnya sebagai cacat malah menganggapnya sebagai keuntungan karena ia banyak memiliki waktu untuk berpikir daripada untuk mendengarkan pembicaraan kosong.

Tahun 1868 Edison mendapat pekerjaan sebagai operator telegraf di Boston. Seluruh waktu luangnya dihabiskan untuk melakukan percobaan-percobaan tehnik. Tahun ini pula ia menemukan sistem interkom elektrik.

Thomas Alva Edison mendapat hak paten pertamanya untuk alat electric vote recorder tetapi tidak ada yang tertarik membelinya sehingga ia beralih ke penemuan yang bersifat komersial. Penemuan pertamanya yang bersifat komersial adalah pengembangan stock ticker. Edison menjual penemuaannya ke sebuah perusahaan dan mendapat uang sebesar 40000 dollar. Uang ini digunakan oleh Edison untuk membuka perusahaan dan laboratorium di Menlo Park, New Jersey. Di laboratorium inilah ia menelurkan berbagai penemuan yang kemudian mengubah pola hidup sebagian besar orang-orang di dunia.

Tahun 1877 ia menemukan phonograph. Pada tahun ini pula ia menyibukkan diri dengan masalah yang pada waktu itu menjadi perhatian banyak peneliti: lampu pijar. Edison menyadari betapa pentingnya sumber cahaya semacam itu bagi kehidupan umat manusia. Oleh karena itu Edison mencurahkan seluruh tenaga dan waktunya, serta menghabiskan uang sebanyak 40.000 dollar dalam kurun waktu dua tahun untuk percobaan membuat lampu pijar. Persoalannya ialah bagaimana menemukan bahan yg bisa berpijar ketika dialiri arus listrik tetapi tidak terbakar. Total ada sekitar 6000 bahan yang dicobanya. Melalui usaha keras Edison, akhirnya pada tanggal 21 Oktober 1879 lahirlah lampu pijar listrik pertama yang mampu menyala selama 40 jam.

Masih banyak lagi hasil penemuan Edison yang bermanfaat. Secara keseluruhan Edison telah menghasilkan 1.039 hak paten. Penemuannya yang jarang disebutkan antara lain : telegraf cetak, pulpen elektrik, proses penambangan magnetik, torpedo listrik, karet sintetis, baterai alkaline, pengaduk semen, mikrofon, transmiter telepon karbon dan proyektor gambar bergerak.

Thomas Edison juga berjasa dalam bidang perfilman. Ia menggabungkan film fotografi yang telah dikembangkan George Eastman menjadi industri film yang menghasilkan jutaan dolar seperti saat ini. Dia pun membuat Black Maria, suatu studio film bergerak yang dibangun pada jalur berputar.

Melewati tahun 1920-an kesehatannya kian memburuk dan beliau meninggal dunia pada tanggal 18 Oktober 1931 pada usia 84 tahun. (An)

FAKTA UNIK TENTANG
THOMAS ALVA EDISON

Di antara berbagai kisah sukses pendiri General Electric itu terselip beberapa fakta menarik. Berikut ini kami sajikan 10 diantaranya.

1. Sulit mendengar, bukan tuli

Edison kerap kali disebut tuli. Padahal ia bukan sama sekali tidak bisa mendengar, namun memiliki kesulitan untuk mendengar secara sempurna. Penyebabnya berbeda menurut beberapa sumber. Ada yang menyebut karena demam ketika ia masih kecil serta beberapa kali infeksi bagian tengah telinga yang tidak diobati. Ada juga yang menyebutkan karena telinganya dipukul kondektur kereta api ketika laboratorium kimianya di gerbong barang terbakar.

2. Surat kabar di atas kereta pertama

Kegemaran Edison bereksperimen di gerbong kereta api membuatnya memiliki laboratorium di dalam gerbong barang meski akhirnya laboratorium itu terbakar. Edison kemudian membangun kembali laboratorium kimia dan percetakan di bagasi mobil. Dari sinilah ia mempublikasikan Grand Trunk Herald yang merupakan surat kabar pertama yang dipublikasikan di atas kereta.

3. Dot dan Dash

Edison memiliki 3 orang anak dari pernikahannya dengan Mary Stilwell. Dua orang anaknya diberi nama panggilan unik, Dot (Marion Estelle Edison) dan Dash (Thomas Alva Edison Junior), yang diduga diambilnya dari lambang yang digunakan dalam sandi Morse yaitu titik “.” dan garis “-”.

4. Melamar Mina dengan kode Morse

Setelah Mary Stilwell meninggal dunia, Edison bertemu Mina Miller yang adalah seorang anak penemu, Lewis Miller. Ia mengajari Mina kode Morse agar mereka dapat berkomunikasi secara rahasia dengan ketukan kode di tangan mereka. Suatu hari Edison bertanya kepada Mina: .- – ..- .-.. -.. -.- – ..- – .- .-. .-. -.- – . yang kemudian dijawab Mina dengan: -.- . … Tak lama kemudian, keduanya pun menikah.

5. Menolak disebut gagal

Edison memprotes sebuah surat kabar yang memuat judul berita utama: “Setelah 9.955 kali gagal menemukan bola lampu pijar, Edison akhirnya berhasil menemukan lampu yang menyala”. Ia meminta judul berita itu diganti. Keesokan harinya, atas permintaan Edison, surat kabar itu mengganti judul berita utamanya menjadi: “Setelah 9.955 kali berhasil menemukan lampu yang gagal menyala, Edison akhirnya berhasil menemukan lampu yang menyala”

6. Paten pertama yang gagal

Pada tahun 1869, di usianya yang ke-22, Edison memperoleh paten pertamanya untuk mesin perekam suara telegrafik yang dirancangnya untuk badan legislatif. Dengan alat itu, setiap anggota badan legislatif cukup menggerakkan satu tombol pada mesin yang akan merekam RUU yang dipilihnya. Sayangnya, alat tersebut ditolak badan legislatif karena cara kerjanya yang lambat.

7. Mesin tato

Pada tahun 1876, Edison mematenkan Stencil-pens, sebuah alat yang kemudian dimodifikasi Samuel O’Reilly untuk menjadi mesin tato pertama. Namun ia tetap dianugerahi penghargaan atas penemuan mesin tato yang pertama.

8. Laboratorium riset industri pertama

Setelah menjual quadruplex telegraf yang dibeli Western Union seharga $10 ribu, Edison menggunakan uang yang diperolehnya untuk membangun sebuah tempat yang sengaja akan dikhususkannya untuk terus menghasilkan serta mengembangkan produk inovasi teknologi. Tempat yang terletak di Menlo Park, New Jersey itu akhirnya berkembang menjadi laboratorium riset industri pertama di dunia.

9. Penyihir Menlo Park

Julukan tersebut didapat Edison setelah berhasil menemukan fonograf pada tahun 1877 sekaligus mengangkat popularitasnya. Pencapaian itu sangat tidak disangka-sangka oleh banyak orang sehingga tampak seperti sihir. Fonograf pertamanya berhasil merekam suara pada kertas timah yang mengelilingi sebuah silinder beralur. Namun kulitas suara yang dihasilkan masih buruk dan hasil rekamannya hanya bisa diputar ulang beberapa kali saja.

10. Listrik untuk semua

Konsep dan implementasi pembangkit tenaga listrik beserta pendistribusiannya ke rumah, kantor, dan pabrik sangat penting dalam perkembangan dunia industrialisasi modern. Edison lah yang pertama kali muncul dengan konsep itu. Pembangkit tenaga listriknya yang pertama dibangun di Manhattan Island, New York pada 1882.


Referensi :

- http://galileo-pmii.tripod.com/artikel/edison.htm
- http://wyranata.blogspot.com/2011/02/10-fakta-unik-thomas-alva-edison.html

7 keunikan indonesia


7 Keunikan Benua Asia

Kita sering mendengar anggapan miring tentang benua asia dimata dunia, masyarakat benua lain bilang bahwa benua asia adalah benua terbelakang, anggapan itu tentu saja salah dan harus dibantah, benua asia merupakan benua yang sangat spesial, bukan hanya sebagai benua terbesar didunia namun benua asia juga memiliki banyak keunikan dan keindahan yang tidak dimiliki oleh benua manapun di dunia ini, berikut adalah 7 keunikan benua asia yang akan membuat kita merasa bangga menjadi seorang yang terlahir dan hidup di benua asia ini.

1 .Iklim
Berdasarkan letak lintangnya, Benua Asia dilalui garis khatulistiwa (0°) di bagian Tenggara (Indonesia) dan garis balik Utara pada lintang 23½° LU.
Kondisi ini menyebabkan benua ini memiliki variasi iklim berikut ini.
a) Iklim monsun tropis, terjadi di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan.
b) Iklim subtropis, terjadi di kawasan Asia Tengah dan Asia Timur.
c) Iklim gurun, terjadi di kawasan Asia Barat, Asia Tengah, dan Asia Timur.
d) Iklim dingin, terjadi di kawasan Siberia (Asia Utara).

2.Gurun di Asia
Asia merupakan benua yang memiliki banyak wilayah gurun, yaitu Gurun Arab (± 2.590.000 km²) di Asia Barat, Gurun Thar (± 453.000 km²) di perbatasan Asia Barat dan Asia Selatan, Gurun Karakum (± 350.000 km²) di perbatasan Asia Tengah dan Eropa Timur, Gurun Kyzykum (± 298.000 km²) di Asia Tengah, serta Gurun Gobi (± 1.295.000 km²) dan Gurun Taklimakan (± 272.000 km²) di kawasan Asia Timur. Gurun-gurun di Asia memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan gurun-gurun yang ada di benua lain. Berikut ini beberapa keunikan dari gurun-gurun di Asia.

a) Gurun Gobi merupakan gurun terdingin di dunia, suhunya bisa mencapai -40°C.
b) Gurun Arab merupakan gurun paling berpasir di dunia.
Umumnya, gurun hanya memiliki 10 – 15% pasir, sementara di Gurun Arab memiliki kandungan pasir yang lebih besar.

c) Letak gurun tertinggi dan gurun terendah terdapat di RRC.

Gurun tertinggi berada di Lembah Qaidam (2.600 m dari permukaan laut) sedangkan gurun terendah berada di Lembah Tupan atau Turfan (150 m di bawah permukaan laut).

3.Gunung dan pegunungan di Asia
Gunung dan pegunungan yang ada di kawasan Asia adalah suatu rangkaian jalur gunung api.Gunung dan pegunungan yang terkenal di Asia, yaitu Pegunungan Himalaya – Karakoram di Nepal, Pegunungan Hindukush di perbatasan Afghanistan dan Pakistan, Pegunungan Altay dan Kunlun di RRC, Pegunungan Arakan Yoma di Asia Tenggara, Pegunungan Bukit Barisan dan Pegunungan Jaya Wijaya di Indonesia, Pegunungan Sulaiman di Afghanistan, dan Pegunungan Ghat di India. Puncakpuncak tertinggi terdapat di Pegunungan Himalaya, yaitu Gunung Everest (8.848 m) yang merupakan puncak tertinggi di dunia.




4.Dataran tinggi di Asia
Benua Asia juga memiliki banyak wilayah dataran tinggi, yaitu Dataran Tinggi Tibet di bagian Barat Daya Cina yang merupakan dataran tinggi terluas dan tertinggi (ketinggiannya mencapai 4.875 m dari permukaan laut), Dataran Tinggi Dekkan di India, Dataran Tinggi Anatolli di Turki (Asia Barat), Dataran Tinggi Mongolia di Asia Tengah, Dataran Tinggi Afghanistan, dan Dataran Tinggi Siberia di bagian Utara Asia.




7.Flora dan fauna
Variasi iklim memengaruhi variasi flora dan faunanya. Di bagian Utara yang dingin, tumbuhan yang dominan adalah jenis tumbuhan tundra, seperti pohon-pohon berdaun jarum, lumut, dan rumput; sedangkan fauna khasnya adalah beruang siberia, rusa kutub, anjing laut, dan rubah. Di bagian tengah didominasi kawasan stepa dan sabana karena sedikit hujan. Di bagian Selatan, yang banyak terjadi hujan, terdapat kawasan hutan hujan yang memiliki beraneka jenis tumbuhan dan hewan. Fauna khas Asia yang dilindungi adalah badak, komodo, panda, gajah, harimau, beruang, dan berbagai jenis burung. Hewan-hewan tersebut perlu dilindungi karena populasinya semakin berkurang.





Benua Asia memiliki karakteristik atau ciri khas yang dapat membedakannya dengan benua-benua lain yang ada di muka bumi ini. Berikut ini beberapa karakteristik Benua Asia.

1) Benua Asia adalah benua terluas dan terbanyak penduduknya.

2) Di Benua Asia terdapat negara-negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia, seperti RRC, India, dan Indonesia.

3) Di Benua Asia terdapat negara-negara penghasil minyak bumi terbesar, terutama negara-negara di kawasan Jazirah Arab.

4) Benua Asia merupakan tempat muncul dan berkembangnya agama-agama besar di dunia, seperti agama Islam di Arab Saudi, agama Kristen dan Katolik di Yerusalem, agama Hindu dan Buddha di India, serta agama Kong Hu Cu di RRC.

5) Di Benua Asia banyak terdapat bangunan bernilai sejarah, bahkan dapat digolongkan sebagai tujuh keajaiban dunia, yaitu Tembok Besar di RRC, Kakbah di Mekah (Arab Saudi), Taj Mahal di India, dan Candi Borobudur di Indonesia.

Sumber: http://unik247.blogspot.com/2012/04/mengetahui-7-keunikan-benua-asia.html

zombie


[Zombies]

Haiti & the Truth About Zombies

Zombies--the walking dead, reanimated corpses--are found deep at the bottom of Mori's uncanny valley: though still human in form, they are no longer connected to us by life, and they breach our deepest taboos--cannibalism, grave desecration, the strict separation of life and death.
Zombies are have become familiar to most Americans through horror films of the last century. Nearly all find zombies repulsive, but horror fans also find them exciting and even humorous. The gore that accompanies any respectable zombie film still connects us to our fear of death in its most palpable form, rotting flesh; but with the fear comes the thrills, for those who can stomach it.
It may first seem that history has little connection to our flesh-eating friends, but they have complex origins...
The images on this page would be unsatisfying to most horror fans, as the hallmark of modern zombie films is now life-like, over-the-top gore. It will serve us better, though, to first explore the origins of this time-honored creature that began as an obscure Haitian folk myth but is now one of our most revisited horror archetypes. It may first seem that history has little connection to our fictional flesh-eating friends, but they have complex origins, too little discussed and too often ignored by historians and horror fans alike: here we hope to provide the first step in the exploration of the phenomenon.
Boko and his zonbi
Zonbi by Haitian artist Wilson Bigaud, 1939.
African scholars who deign to seriously discuss such topic as the zombie, say the word comes from the Kongo word for "soul", nzambi. When slaves were brought to Haiti and the Vodou religion grew amidst old African traditions and the harsh conditions of slavery, the idea of the zonbi was born.
Zombies are found on the fringes of the Vodou religion, not in the everyday praising of the gods.
It is estimated that 80-90% of Haitians "serve the spirits" or practice Vodou. In Vodou, all people die in two ways--naturally (sickness, gods' will) and unnaturally (murder, before their time); those who die unnaturally linger at their grave, unable to rejoin ancestors until the gods approve. Souls are vulnerable at this time: their will may be snatched up by a powerful sorcerer (boko) and locked in a bottle which the boko uses to control their un-dead but un-living body. Other times he lets their body rest but uses just the soul.
This is does not have to be unpleasant for the soul or body: under the right circumstances, a hardworking man might prefer to continue working rather than lie waiting in the ground, especially if he is used by the boko to help with healing magic. More unsavory boko, though, could purposely kill a man to make a zombie, then force him into mindless toil or worse, black magic & evil intentions.

Papa Mondy, a vodou houngan (priest) who works to undo bad magic of "unscrupulous" boko. Here he is being mounted (possessed) by a gede (a usually beneficent graveyard spirit).
Zombies and bokor are found only on the fringes of the Vodou religion, belonging to the realm of secret societies, not the everyday praising of the gods (lwa). Do Haitians believe that the dead rise and become, at best helpers and at worst slaves? To some zombies are just folktales, to others they are as possible as a car crash, and to still others they are somewhere in between. Most see zombies as a metaphor for hard life without reward, a loss of control, or worse--a loss of faith.
Haitians do not fear zombies, they fearbecoming a zombie against their will.
The few who do see zombies as concrete reality do not fear the zombies themselves (who are only mindless and pathetic); rather, they fear becoming a zombie under the wrong circumstances and against their will. The boko's power to make zombies is used more often as a threat to maintain social order; only rarely will he actually go through with the act of catching a soul. The stories are told with laughter as much as with seriousness, and the zombie remains a potent image in the rural folktales and philosophical discussions of Haiti today.
Ever-sensitive to the stereotypes associated with Vodou, scholars rarely explore the still very present zonbi image in Haitian culture, and so we get little information from reliable sources (leaving horror films to replace facts). Those who do breach the topic are not treated seriously and are sometimes accused of racism; other scholars ignore their (to them) obviously unworthy research. The most well-known researcher to explore the Haitian zonbi is Wade Davis, an ethnobotanist: the horror film The Serpent & the Rainbow is taken from his book of the same name. He sets out to prove the scientific reality of zonbi production, claiming to have found a zonbi-creating medicine and its antidote.z
Despite these sensationalistic claims, the very well respected African art historian Robert Farris Thompson has defended Davis. In an introduction to Davis' book Passage of Darkness, Thompson writes: "I would never have been steered in the right direction, taught to take the zombie phenomenon seriously as a social sanction of the greatest import, had I not come into contact with the research distilled in this volume by Wade Davis (xii)."